Saling Menghina dan Menjatuhkan Lawan Politik di Televisi, Pantaskah?

Ketika kita berada pada era informasi dan komunikasi yang semakin meningkat frekensinya menyebabkan seseorang tidak dapat mengelak dari sentuhan media. Berbagai media secara langsung atau tidak langsung akan kita temui dan kita gunakan setiap harinya. Salah satu media tersebut adalah televisi. Televisi merupakan media massa yang menurut saya paling memiliki kekuatan besar dibanding media massa lainnya untuk ikut andil dalam mempengaruhi pola pikir, pola pandang, sikap, dan perilaku terutama bagi anak-anak yang biasanya masih menelan bulat-bulat isi dari televisi.

Televisi terus mengalami perkembangan yang sangat pesat, dimana televisi terus mengalami gerak dinamika komunikasi[1]. Orientasi program-program televisi semakin hari semakin terus mengalami perubahan baik dari segi tema maupun konten, sejalan dengan tuntutan masyarakat agar pemirsa atau penonton dapat terpuaskan dengan tayangan yang ada dan menjadi pilihan mereka. Meskipun, pada akhirnya dengan mengikuti selera masyarakat tersebut membuat pihak televisi menjadi lebih tergiur pada profit tanpa memperhatikan konten dari program tersebut “asal penonton suka”.

Kehadiran televisi di dunia telah membawa dampak yang besar bagi umat manusia. Televisi membawa berbagai kandungan informasi, pesan-pesan yang dalam kecepatan tinggi menyebar ke seluruh pelosok dunia. Menjadi berbagai alat bagi berbagai kelompok untuk menyampaikan berbagai pesan untuk bermacam kalangan masyarakat. Selain sebagai penyampai informasi, televisi memiliki banyak fungsi, Jay Black dan Frederick C Whitney (1988) menjelaskan ada 4 Fungsi komunikasi Massa[2]. Pertama, To inform, artinya yang berarti untuk menginformasikan, maka televisi memiliki fungsi sebagai penyampai informasi,  jurnalisme mengambil kedudukan penting disini[3]. Kedua, to entertain artinya adalah untuk menghibur, bisa kita lihat bersama dalam perkembanganya televisi memang memenuhi acaranya dengan berbagai macam hiburan[4]. Ketiga, to persuade artinya adalah untuk membujuk, televisi sebagai media komunikasi juga memiliki fungsi untuk membujuk khalayak[5]. Yang terakhir, adalah transmission of culture berarti suatu factor yang memberikan petunjuk yang mengelilingi media massa itu sendiri yang secara serempak mengukuhkan status quo dan memunculkan perubahan[6].

Menurut Dwyer, televisi adalah media yang potensial sekali, tidak saja untuk menyampaikan informasi tetapi juga membentuk perilaku seseorang, baik ke arah positif maupun negatif, disengaja ataupun tidak. Sebagai media audio visual Televisi mampu merebut 94 % saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. Televisi mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50 % dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau, secara umum orang akan ingat 85 % dari apa yang mereka lihat di televisi, setelah 3 jam kemudian dan 65 % setelah 3 hari kemudian. Itulah sebabnya mengapa televise sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari – hari sebagai media dan sarana informasi[7].

Dalam situs jejaring sosial Facebook, salah seorang pemilik akun Facebook yang bernama Anggini Muchidin meng-update statusnya mengenai sebuah program acara di TV ONE dalam group “CERDAS NONTON TELEVISI”. Dalam update-an nya beliau menyebutkan:

TVone rame banget tema “Anas Siap Digantung di Monas” saling hina dan menghina antar anggota DPR dari berbagai partai dan beradu sama pengacara-pengacara tapi sayang pembawa acaranya Karni Iliyas kurang menghidupkan suasana. Dan pertanyaan ke narasumbernya kurang tepat sayang banget – Anggini Muchidin[8].

Menanggapi hal tersebut, memang panggung politik di Indonesia beberapa tahun terakhir ini menjadi headline dan sorotan berita yang paling dinantikan untuk dikorek lebih mendalam oleh insan pers dan khalayak dari seluruh penjuru di Indonesia. Semenjak dipoklamirkannya orde demokrasi, seluruh masyarakat Indonesia khususnya wartawan semakin ingin mengkorek berita mengenai pemerintahan Indonesia agar terjadi sebuah transfaransi dari pemerintahan Indonesia, salah satunya mengenai politik.

Akhir-akhir ini televisi Indonesia semakin marak membuat serta menayangkan program yang bertemakan politik dan kritik pemerintahan, baik itu berupa talkshow, debat, sindirian, dll. Jika dilihat dari tema acara, acara tersebut memang sangat baik dan informatif.

Melalui acara tersebut masyarakat Indonesia akan lebih mengetahui menganai jalannya sistem pemerintahan dan politik di Indonesia yang artinya semakin membuka jalan untuk terjadinya transfaransi dalam pemerintahan di Indonesia. Selain itu, melalui acara tersebut pula kita sebagai masyarakat Indonesia akan jauh lebih mengetahui dan mengenal secara lebih jelas mengenai karakteristik, visi, dan misi dari para politikus di Indonesia. Mengapa? Karena ketika mereka berbicara dan mengungkapkan pendapatnya, secara disadari maupun tidak disadari oleh orang yang bersangkutan caranya berkomunikasi dan menyampaikan gagasannya akan menjadi cerminan mengenai sikap dan perilakunya, sehingga itu akan membuat masyarakat Indonesia jauh lebih mengenal terhadap kepribadian orang yang bersangkutan. Senada dengan yang dikatakan oleh Yeni Huriyani pada comment status dari Anggini Muchidin, seperti berikut:

Konten dan model tayangan ini bagus, karena bisa membuka mata publik dalam melihat adegan dagelan politisi kita[9].

Contoh: dalam sebuah debat politik salah satu pengacara selalu bersikukuh dengan idenya dan sama sekali tidak mendengarkan gagasan maupun masukan dari lawan debatnya tanpa mempedulikan apakah pandangannya tersebut benar atau salah, maka dengan perilakunya tersebut kita sudah dapat menyimpulkan bahwasannya orang tersebut sangatlah keras kepala dan egois.

Akan tetapi selain memiliki sisi positif, acara ini pun tidak sedikit menganduk sisi negatif. Seperti yang katakan oleh Anggini Muchidin dalam statusnya: “TVone rame banget tema “Anas Siap Digantung di Monas” saling hina dan menghina antar anggota DPR dari berbagai partai dan beradu sama pengacara-pengacara[10]. Jika kita lihat dari segi tema dan judul episodenya saja, tema dari episode tersebut sangatlah kurang pantas untuk disiarkan di televisi karena bahasanya sangatlah menjatuhkan dan terkesan mengolok-olok satu pihak sedangkan tulisan tersebut di tonton oleh jutaan pasang mata, apakah di Indonesia memang terdapat budaya saling menjatuhkan dan memojokan?.

Televisi sebagai media massa seharusnya harus bersikap netral dan lebih adil, terlepas orang itu memang benar salah atau tidak dan kalaupun memang orang tersebut terbukti bersalah apakah televisi sebagai media massa berhak untuk ikut andil dalam menjatuhkan dan memperolok-olok pihak tersebut?. Tapi, jika dilihat dari judul tersebut tampak bahwa televisi Indonesia terkesan kurang bijaksana dalam pemilihan judul dan tata bahasa, dari judul tersebut terkesan seperti memprovokasi sebagian pihak.

Pada comment yang digaris bawahi disebutkan saling hina dan menghina antar anggota DPR. Menurut saya, itu adalah salah satu dampak negatif yang cukup besar karena pada acara tersebut debat yang berlangsung cenderung lebih menjatuhkan lawan secara tidak fair. Bagaimana tidak, dalam setiap episodenya para pengisi acara tersebut selalu saling menghina juga menyindir satu sama lain dan hal tersebut sangatlah tidak baik untuk ditonton khususnya oleh anak kecil.

Perilaku para politikus Indonesia dalam acara tersebut sangat-sangat tidak terkontrol dan terlalu terbawa emosi, sering kali terlihat dalam setiap debatnya mereka lebih banyak menggunakan emosi dibandingkan akal sehat bahkan tidak jarang muncul beberapa kata yang tidak sepantasnya diucapkan meskipun itu hanya untuk tujuan “menyindir”. Dari berbagai perilakunya yang tampak di tayangan tersebut terkesan bahwa mereka bukanlah kaum “intelek” yang selalu mereka gembar-gemborkan saat sedang pemilu.

Tanpa disadari, ternyata masyarakat kita saat ini banyak menjadikan tayangan Televisi sebagai referensi utama dalam pengetahuan, informasi, bahkan perilaku keseharian[11]. Televisi telah menjadi sarana untuk melakukan contoh-contoh keinginan diri agar mirip atau sama persis seperti tayangan di Televisi[12]. Apa yang ditampilkan di televisi ingin selalu ditiru agar diri penikmat Televisi seakan-akan menjadi bagian dari televisi tersebut dan orang disekitarnya mengatakan “Oh, ternyata dia tidak ketinggalan info”[13]. Ketika seseorang menonton televisi, dalam hati penikmat Televisi mengatakan “Saya harus seperti itu !“; “Suatu saat saya juga akan seperti itu !”; “Mmmmm…kayaknya itu boleh juga !”; “Iya ya, memang begitu sekarang !”; dan banyak ungkapan-ungkapan lainnya yang seakan-akan membenarkan apa yang ada di televisi[14].

Ketika anak kecil, atau remaja menonton perilaku mereka pada tayangan itu mungkin saja timbul suatu pandangan “mencela dan menghina itu perbuatan yang wajar, lumrah, dan tidak salah karena para petinggi negara saja bersikap seperti itu”. Menurut saya, jika memang acara tersebut akan terus ditayangkan, alangkah lebih baiknya acara tersebut tidak ditayangkan secara langsung, agar perilaku para politkus yang sedang berdebat ada yang tidak pantas ditayangkan dapat dicut dan hanya memunculkan tayangan yang informatifnya saja. Kalaupun acara tersebut akan tetap ditayangkan dengan format “live” alangkah lebih baik jika para pengisi acara di brief terlebih dahulu dan membuat peraturan yang ketat.

Kesimpulan

Akhir-akhir ini televisi Indonesia semakin marak membuat serta menayangkan program yang bertemakan politik dan kritik pemerintahan, baik itu berupa talkshow, debat, sindirian, dll. Jika dilihat dari tema acara, acara tersebut memang sangat baik dan informatif.

Melalui acara tersebut masyarakat Indonesia akan lebih mengetahui mengenai jalannya sistem pemerintahan dan politik di Indonesia. Selain itu, melalui acara tersebut pula kita sebagai masyarakat Indonesia akan jauh lebih mengetahui dan mengenal secara lebih jelas mengenai karakteristik, visi, dan misi dari para politikus di Indonesia. Mengapa? Karena ketika mereka berbicara dan mengungkapkan pendapatnya, secara disadari maupun tidak disadari oleh orang yang bersangkutan caranya berkomunikasi dan menyampaikan gagasannya akan menjadi cerminan mengenai sikap dan perilakunya.

Perilaku para politikus Indonesia dalam acara tersebut sangat-sangat tidak terkontrol dan terlalu terbawa emosi, sering kali terlihat dalam setiap debatnya mereka lebih banyak menggunakan emosi dibandingkan akal sehat bahkan tidak jarang muncul beberapa kata yang tidak sepantasnya diucapkan meskipun itu hanya untuk tujuan “menyindir”. Dari berbagai perilakunya yang tampak di tayangan tersebut terkesan bahwa mereka bukanlah kaum “intelek” yang selalu mereka gembar-gemborkan saat sedang pemilu.

Muhammad Tata.


[1] Nia Fadila Rizky, “Dampak Televisi” diakses dari http://niaas8.wordpress.com/2009/11/27/dampak-televisi/ pada tanggal 4 April 2012 pukul 21.54 WIB

[2] “Peran dan Fungsi Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa”, diakses dari http://semangat-cari-ilmu.blogspot.com/2009/10/peran-dan-fungsi-televisi-sebagai-media.html pada tanggal 4 April 2012 pukul 21.33 WIB

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Nia Fadila Rizky, “Dampak Televisi”, diakses dari http://niaas8.wordpress.com/2009/11/27/dampak-televisi/ pada tanggal 4 April 2012 pukul 21.54 WIB

[8] Anggini Muchidin, update group Facebook “Cerdas Nonton TV”, diakses dari http://www.facebook.com/groups/253371448068375/ pada tanggal 4 April 2012 pukul 22.30 WIB

[9] Anggini Muchidin,  group Facebook “Cerdas Nonton TV”, diakses dari http://www.facebook.com/groups/253371448068375/ pada tanggal 4 April 2012 pukul 22.45 WIB

[10] Ibid

[11] Hamiudin, “R-tv”, diakses dari http://www.rimbawan.or.id/2012/01/r-tv.html pada tanggal 5 April 2012 pukul 21.24 WIB

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

Categories: Social Issue | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Saling Menghina dan Menjatuhkan Lawan Politik di Televisi, Pantaskah?

  1. Terima kasih sudah mencantumkan di referensi Anda. Semoga tayangan Televisi kita bisa berakhlak yg mulia, mengutkan pemerintah dan mendorong kemajuan bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: